Signals from the Universe

by | Nov 18, 2012 | Culture | 0 comments

“There is no such thing as objectivity. 

We’re all just interpreting signals from the universe and trying to make sense of them. 

Dim, shaky, weak static-y little signals that only hint at the complexity of a universe that we cannot begin to comprehend.”

Kutipan dialog di atas merupakan bagian dari dialog sebuah episode dari serial TV favorit saya, Bones. Terinspirasi dari kehidupan nyata Forensic Anthropologist bernama Kathy Reichs, Bones adalah serial bergenre procedural crime mengenai Washington based crime solving partner, seorang agen FBI bernama Seeley Booth (diperankan oleh David Boreanaz) dan seorang Forensic Anthropologist dari institusi swasta Jeffersonian, bernama Temperance Brennan (diperankan oleh Emily Deschanel). Dengan dukungan dari tim forensik dari Jeffersonian serta FBI, Booth dan Brennan memecahkan kasus-kasus kriminal dengan korban yang telah mengalami dekomposisi tubuh.

Istilah Bones sendiri merupakan julukan yang diberikan oleh Booth bagi Brennan, merujuk pada keahliannya mengidentifikasi tulang belulang para korban kriminal yang mereka kerjakan kasusnya.

So, what’s so special about this TV series that differs it from other procedural crime series like NCIS or CSI?

Keunikan dari serial ini adalah penekanannya pada character development and relationship, dialog panjang yang smart dan witty, corresponding plot line, serta resep kuno serial TV yang beresiko tapi sejauh ini berhasil diterapkan, yaitu sexual tension dan will they/won’t they relationship antara Booth dan Brennan.

Sejak awal serial Booth dan Brennan digambarkan sebagai polar opposite. Booth, adalah former sniper turned FBI Agent yang emosional dan peka perasaannya. Namun dengan good look dan charm yang dimilikinya, ia mudah memenangkan hati orang lain. Sebaliknya, Brennan adalah Forensic Anthropologist terbaik di Amerika sekaligus New York Times’ Best Selling Author yang hiper rasional dan antisosial. Keduanya memiliki latar belakang cukup gelap dan emotional baggage yang kemudian membentuk karakter mereka. Sepanjang serial digambarkan bagaimana keduanya beradaptasi dan berinteraksi dengan satu sama lain hingga mereka mencapai tahap mutual agreement, mampu memahami without even saying a word. Meski demikian, perbedaan yang mereka miliki kerap memancing keduanya untuk berdebat. Bagi saya, akting Boreanaz dan Deschanel mampu mengilustrasikan sexual tension antara Booth dan Brennan through their witty bantering.

Karakter-karakter lain di serial ini, yaitu tim forensik Jeffersonian dan psikolog FBI juga ikut berkembang seiring dengan berjalannya serial ini. Begitu pula dengan hubungan mereka. Ada Cam (bos sekaligus Koroner Jeffersonian), Angela (Forensic Artist sekaligus sahabat Brennan, yang merupakan putri dari Billy Gibbons, rockstar band ZZ TOP), Hodgins (Botanist, Entomologist, Mineralogist, penyandang dana terbesar Jeffersonian, sekaligus suami Angela), para anak magang yang dijuluki squinterns dan beragam kebiasaan aneh mereka, serta Dr. Sweets, psikolog FBI yang awalnya tidak disukai oleh Booth dan Brennan namun lambat laun menjadi protege dari Booth.

Kasus yang ditampilkan pada setiap episode Bones pun tidak serta merta berdiri sendiri. Sebaliknya, kasus yang ada berfungsi sebagai refleksi atau metafora permasalahan yang sedang dihadapi oleh Booth dan Brennan, maupun karakter-karakter lainnya.

 

Season 6 Episode 9: The Doctor in the Photo

A tree grew through a decomposed body in a seedy neighborhood. Booth dan Brennan ditugaskan memecahkan kasus tersebut. Kasus ini adalah kasus yang emosional bagi Brennan, it almost clouds her objectivity. Profil dari korban yang mereka selidiki mirip sekali dengan profil Brennan: dokter, lajang, ciri fisik yang serupa,  workaholic and detached, the best at her field namun dengan kehidupan sosial yang tak luas. Tak ada seorang pun yang mencarinya ketika ia menghilang.

“I will show you fear in a handful of dust, T.S. Elliot. 
We don’t actually fear death. We fear that… 
That no one will notice our absence. 
That we will disappear without a trace.”

Penggalan bait puisi sastrawan Inggris T.S. Elliot, merupakan premis dari episode ini. Melalui kasus ini Brennan melihat refleksi kehidupan yang dijalaninya. Termasuk refleksi hubungan personalnya dengan Booth. Secara metafora hal itu digambarkan melalui scene saat Brennan membuka case file korban untuk pertama kali dan mendapati foto dirinya. Ini adalah episode epiphany di mana Brennan mengakui apa yang ia rasakan dan apa yang seharusnya ia lakukan dengan perasaannya itu.

Brennan membuka case file untuk pertama kali dan mendapati foto dirinya.
 
Adegan-adegan dalam episode ini mengilustrasikan proses internal Brennan melihat dan mencerna refleksi dari kehidupan yang ia jalani. Brennan menunjukkan case file korban pada Booth dan bertanya apakah Booth familiar dengan wajah korban, Booth menjawab tidak. Sembari meneliti tulang belulang korban, Brennan mendengarkan rekaman transkrip korban, yang suaranya benar-benar mirip dengan Brennan sambil berbicara seolah ia sedang mengobrol dengan si korban.
“… She dealt with the stress in two ways. A, she became logical to the extreme. B, she detached herself […] Yeah emotionally. She made herself not care. In order for her to stop feeling nothing, she began behaving erratically.”-Dr. Sweets

Proses internal Brennan ini juga digambarkan melalui dialog. Dialog-dialog Brennan dengan rekan-rekan kerjanya saat membahas profil korban terdengar layaknya deskripsi diri Brennan. Dialog internal Brennan dengan dirinya sendiri, dalam mencerna dan memahami apa yang sedang ia alami digambarkan melalui dialog Brennan dengan Micah, si penjaga malam Jeffersonian yang selalu muncul tiba-tiba.

“I understand. I missed my chance. My whole world turned upside down.
 I can adjust. I’m fine, alone.”-Brennan

There is also this one heartbreaking scene, yang menurut saya adalah langkah besar bagi perkembangan karakter Brennan dan hubungannya dengan Booth.

Menurut saya, episode Bones yang satu ini adalah episode yang mengesankan. Quoting T.S. Elliot as a way to explain the premise of the episode really hit home. Tidak hanya untuk karakter Brennan yang seluruh kehidupannya berpusat pada karir dan reputasi yang ia bangun, tapi juga bagi penonton. Semua orang pasti ingin dikenang. Diingat keberadaannya.  Eventually when our time is up and we have to go, will people remember us? How will they remember us? What if, nobody misses our absence and life just goes on like we never existed? 

Does somebody love us enough to notice if we disappeared?

“Three days. Three days for the world to turn right side up again.”
Temperance Brennan

Written by Anty

A CR Girl turned stay at home Mom of 3 kids. Missus Heroine is the place where I share my thoughts and journey adapting into my new roles as well as many other things. Here I am, in a journey of becoming the Heroine I want myself to be.

More From This Category

Declaration of Love

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin mencintaimu dengan sederhana,Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiadaAku Ingin, Sapardi Djoko...

read more
I (probably) Envy You (both), Like Crazy

I (probably) Envy You (both), Like Crazy

This is a film by young director Drake Doremus about two young people met-cute and fell in love with each other like crazy.Jacob (Anton Yelchin) was a design student in a Los Angeles university. He doubled as a lecturer's assistant in a media study class where Anna...

read more

0 Comments

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Drop me your email and I'll slide into your inbox for updates!