A Confined Space

by | Nov 7, 2020 | Essays | 0 comments

 

 

Beberapa minggu ini cuaca Surabaya sudah mulai mendung, pertanda memasuki musim hujan. Beberapa kali turun hujan rintik-rintik meski hanya sebentar. Saya selalu menyambut datangnya musim hujan, bagaikan bertemu lagi dengan saudara atau sahabat karib yang jauh dan lama tak dijumpai. Ada perasaan tenang dan rindu saat musim hujan tiba. Saya sering bilang, “I love this gloomy season.” Teduhnya langit, suhu yang relatif lebih dingin seolah mempengaruhi pikiran dan perasaan untuk menjadi lebih tenang, sekaligus melankolis. Berbanding terbalik dengan teriknya matahari Surabaya di musim kemarau yang seringkali membuat batas kesabaran lebih cepat menguap. Meski tidak dipungkiri, banyak juga orang di sekitar saya yang mengeluhkan musim hujan dengan rentetan peristiwa yang menyertainya: banjir dan kemacetan, pekerjaan yang terhambat, listrik mati, sampah menumpuk, hingga penyakit flu dan batuk yang tak kunjung henti.

Perasaan manusia dan memori pengalaman memang dua hal yang saling berkaitan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Di jalinan memori saya, musim hujan adalah kumpulan hal-hal menyenangkan. Di masa kecil, saat itu hari Raya Idul Fitri jatuh pada musim hujan. Saat di mana saya berkumpul dengan keluarga besar dan tentunya bertemu dengan saudara-saudara sepupu yang sebagian besar tinggal di ibukota. Bertemu hanya setahun sekali, diisi dengan rutinitas berangkat satu mobil untuk menonton bioskop di Delta Plaza serta tentunya bermain di rumah Eyang yang kala itu ada di jalan Lombok, Surabaya. Rumahnya merupakan bangunan kolonial dengan halaman depan yang luas dan sebuah paviliun. Dahulu adalah eks kantor polisi. Eyang Kakung dulunya polisi, lebih tepatnya Kepala Lab. Forensik yang pertama di Surabaya. Konon foto beliau masih terpasang di kantor forensik setempat. Sepenggal kisah dari masa lalu yang cukup sering Bapak ceritakan kepada kami anak-anaknya. Jika membaca atau mendengarkan kisah sejarah perjuangan bisa membangun rasa patriotisme, maka cerita yang Bapak bagikan tentang Eyang Kakung, tentang keluarga besar Bapak sedikit banyak membangun rasa “patriotisme” juga di dalam hati ini. Perasaan bangga, sayang, dan solidaritas. Bukan melulu tentang apa dan siapa, toh jika dilihat gelar Raden yang tersemat pada Eyang Kakung di masa modern saat ini hanyalah penambah panjang nama. Tidak menjadi pembeda perlakuan ataupun simbol limpahan materi.

Nilai adalah inti dari kisah-kisah masa lalu yang diceritakan. Oleh Bapak, Tante, dan Pakde. Bahwa terlahir sebagai enam bersaudara, mereka harus rukun dan saling bekerja sama, berbagi dan menyayangi. Unggah-ungguh adalah nilai yang ditanamkan Eyang Putri: menjaga laku dan tutur kata. Berbagi, jika engkau hanya memiliki sebuah kue, bukan tentang bahagia menikmati sedikit yang kau punya itu untuk dirimu saja namun bagaimana ikhlas membagi bahagia itu bersama dengan yang lainnya. Garis hidup lalu membagi jalan dari keenam anak-anak Eyang, membentuk enam kepribadian, prinsip, dan pandangan hidup yang berbeda, namun penuh warna. Meski demikian, ada benang merah yang bersumbu dari Eyang dan terjalin pada anak-anak dan kemudian cucu-cucu beliau: menjadi seorang yang tangguh karena tempaan. Apapun yang berhasil dicapai, betul adalah atas kehendak Allah yang didahului dengan liku usaha. Ada pesan yang selalu disematkan kepada kami semua, apapun yang terjadi, keluarga inilah rumah kami yang harus selalu dirawat dengan kerukunan dan kasih sayang. Jarak dan keadaan memang memisahkan, tapi selalu ada cara agar jalinan benang merah tak terputus.

Roda kehidupan yang selalu berputar, pernah membawa Bapak dan kami pada putaran bawah. Terlepas dari kerikil yang terlewati, perasaan akan hangatnya keluarga selalu saya asosiasikan dengan musim hujan. Saya berpikir, mungkin hal ini adalah bentukan fondasi pengalaman masa kecil, memori masa kecil tentang hangatnya sebuah keluarga, tentang nilai yang ditanamkan turun temurun lewat laku dan tutur kata itu. Yang kemudian akhirnya menyertai saya di setiap langkah dan keputusan hidup yang saya ambil.

***

Dan membawa saya pada suatu pagi.

20 Oktober 2020. Di sela-sela aktivitas menyiapkan sarapan dan sekolah, muncul keinginan untuk menelusuri percakapan di whatsapp. Apa yang saya cari? Informasi pertama kali tugas sekolah anak-anak via whatsapp diberikan. Seingat saya, saat itu ada jeda libur usai mereka mengerjakan rangkaian PAS (Penilaian  Akhir Semester). Di tengah jeda libur itulah, setelah 3 bulan resign dari pekerjaan yang saya geluti lebih dari 7 tahun, hari itu pertama kalinya saya kembali ke kantor untuk menyerahkan laptop kerja. Laptop yang memang masih saya bawa untuk membantu penyelesaian beberapa pekerjaan sambil menunggu pengganti saya resmi berkantor di cabang.

Senin, 2 Maret 2020. Seperti kebiasaan tim sales di awal bulan selalu ada acara kebersamaan tim. Saya datang saat mereka akan berangkat. Tanpa rencana, saya pun diajak. Sekalian perpisahan, kata Supervisor. Makan siang bersama di Djournal Cafe, Pakuwon Mall. Kami mengobrol sambil menunggu pesanan tiba when the news arrived: kasus resmi Covid-19 pertama di Indonesia. Datangnya dari 2 perempuan yang tertular warga Jepang di Jakarta. Tidak pernah saya sangka, that lunch moment was a turn of event. Usai makan siang, saya bersama Suci mendatangi Hypermart. Naluri pertama saya adalah membeli hand sanitizer dan tisu basah untuk bekal anak-anak sekolah. Yang berhasil saya dapatkan hanyalah tisu basah, hand sanitizer sudah habis. Oke, masih ada satu lagi supermarket di sini: Lotte Mart. Ada di bagian mall paling ujung, yang besarnya jauh melebihi lapangan sepak bola. Apa daya, sampai di sana, hal yang sama saya dapati: hand sanitizer pun kosong. Dari kejauhan saya juga melihat beberapa pelanggan yang sudah lebih dulu di kasir memborong tisu kering. Sambil komunikasi via whatsapp dengan suami, it started to sink, “Wow, this is really happening.”

Berita tentang adanya Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Cina samar-samar saya dengar sejak Desember 2019 lalu. Beritanya saya simak sambil lalu saja karena pada saat itu kejadian tersebut terasa jauh. Di samping itu, saya sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan kami yang begitu singkat, 3 bulan saja sambil bekerja dan mempersiapkan event-event akhir tahun sekaligus persiapan resign. Yang terbersit di benak saya waktu itu, “Ah virus lagi, dari sana lagi…” and then I shrugged it off. Sibuk membereskan berbagai urusan.

Masih lekat di memori, beberapa hari pertama sejak berita Covid 19 masuk di Indonesia things seems to be overwhelming. Belum ada protokol yang jelas untuk menangani kasus ini dan bagaimana tindakan pencegahannya. Setidaknya itu yang saya deduksi dari rangkaian berita di media. Namun yang jelas, kami mulai menggunakan masker jika pergi keluar rumah. Anak-anak yang saat itu masih libur di rumah, mulai dibiasakan untuk lebih sering mencuci tangan. Segala barang bawaan dari luar rumah pun mulai didesinfeksi. Standar kebersihan untuk ART mulai ditingkatkan. Menerapkan protokol kesehatan untuk orang-orang yang datang ke rumah. Namun semua itu tidak menutup kekhawatiran terbesar, bagaimana jika anak-anak harus pergi ke sekolah? Tidak ada yang bisa menjamin anak-anak kecil bakal betah memakai masker dan menjaga jarak di luar pengawasan orang tuanya. Bagaimana dengan suami saya, yang setiap hari pergi bekerja dan bertemu dengan pegawai di kantornya, ataupun meeting dengan rekan kerjanya? Who knows what they may bring. 

Saya sedikit bernapas lega ketika pemerintah akhirnya menetapkan agar anak-anak belajar secara daring. Setidaknya mengurangi resiko anak-anak berinteraksi dengan orang lain yang tidak bisa dipastikan kesehatan dan kebersihannya. Meski demikian, sebagai seorang yang cukup control freak dan meletakkan kebersihan pada prioritas utama, banyak hal yang membuat pikiran saya overwhelmed karena jauh di balik itu semua sejujurnya saya tahu, ada banyak hal yang tidak bisa saya kendalikan.

2 November 2020. Di hari ini setahun yang lalu saya ijin untuk tidak masuk kantor. Ijin yang sudah saya kantongi sejak beberapa minggu sebelumnya supaya saya tidak di-booking untuk menangani event. Tanggal yang “pas” kalkulasinya karena jatuh di hari Sabtu alias weekend, sehingga semua anggota keluarga bisa berkumpul, sebelum saya berulang tahun, dan di awal bulan yang relatif sepi dari pekerjaan. Ijin yang, waktu saya ajukan ke Kepala Cabang, dijawab dengan santai sambil nyengir, “Hehe.. mau lamaran ya kamu?”

“Lho… Bapak kok tau. Kan saya nggak bilang siapa-siapa.”

“Ya emang udah waktunya kok. Hehehe…”

***

Peristiwa lamaran dilangsungkan di rumah alm. Eyang, sesuai tradisi yang secara tidak langsung terbentuk: dua sepupu saya yang juga tinggal di Surabaya dilamar di tempat ini juga. Keluarga besar Ibu, meski hanya sebagian, hadir. Ada Oma, as the only grandparent that I have left. Kehadiran keluarga Ibu menjadi sentuhan tersendiri karena kami jarang berkumpul dan juga karena keluarga Ibu berkeyakinan berbeda. Keluarga besar Bapak yang sebagian tinggal di Jakarta, menyempatkan untuk hadir dan turut berperan. Ada perasaan bahagia di hati. Selain karena saya akan dilamar, perasaan itu hadir karena berkumpulnya seluruh keluarga saya. The people I’ve known since day one… dan yang entah bagaimana meski jarang bertemu atau bertegur sapa, perhatian mereka terhadap keadaan saya tak pernah berkurang. Mungkin itu salah satu nilai silaturahmi yang ditanamkan oleh Eyang Putri. Tak melulu berupa tatap muka, namun juga dengan berkabar dari jauh, baik langsung ataupun melalui cerita yang diteruskan dari satu anggota keluarga ke lainnya. I saw them happily smiled at me and congratulated me genuinely. I was overjoyed. Rasanya seperti lebaran, begitu komentar sepupu dan saya.

Sejak Eyang Putri berpulang sekitar 2017 lalu, kami sekeluarga besar melewatkan Lebaran terpisah. Berlibur dengan keluarga kecil masing-masing ataupun tetap di rumah saja. Buat saya, terasa ada sesuatu yang hilang. Oh jangan salah menyangka, ketika keluarga berkumpul di Hari Raya, I was not the life of the party. Seringnya saya duduk  bersama sepupu-sepupu untuk mengobrol, atau ya sekadar duduk saja kalo sudah lelah atau kehabisan bahan obrolan. Hence, in silence I took in the moment and snapped a mental picture of them all. These are the people whom I share bloodline with, and I am forever attached to. They are my people.

A picture worth a thousand words, they say. Hingga sekarang saya tak habis pikir bagaimana, mental pictures yang terpatri di memori saya, dapat dituangkan dengan detail yang sama seperti apa yang saya alami, dan dapat membangkitkan perasaan yang sama ketika peristiwa itu terjadi. The feeling of melancholic nostalgia these mental pictures evoke, can others feel it when I tell them stories? Can my husband and kids feel it, if I tell them stories? Rasanya inilah kenapa manusia mengembangkan yang namanya empati ya. Belajar memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain, although to a limited length. Mendengarkan orang lain bercerita itu bagaikan membaca novel. Rangkaian kata-kata yang visualisasinya kita bayangkan sendiri. Sesuai imaji kita, yang belum tentu sama seperti si empunya cerita namun disatukan oleh rasa.

Di benak saya, dan juga on going conversation dengan calon suami saat itu, saya ingin agar pernikahan kami dilangsungkan di bulan Maret, agar kami akan punya sekitar 4-5 bulan untuk persiapan pernikahan. Saya mengkalkulasi, jangka waktu tersebut cukup bagi saya untuk membereskan pekerjaan kantor dan melakukan serah terima pekerjaan dengan pengganti saya. Meski demikian, di penghujung acara lamaran, diputuskan bahwa pernikahan kami maju di bulan Januari. 

***

Majunya tanggal pernikahan yang bulannya menjadi bertepatan dengan annual meeting perusahaan membuat saya harus memastikan lagi apakah Kepala Cabang saya, dan juga beberapa Kepala Cabang yang pernah menjadi atasan saya bisa hadir di pernikahan saya. Tujuh tahun di perusahaan ini dengan empat Kepala Cabang berbeda, sedikit banyak beliau-beliau menjadi saksi dan terkadang tempat curhat kegalauan saya yang masih saja sendiri di saat rekan kerja dan saudara mulai menikah dan berkeluarga. Di tengah gurauan yang dilontarkan oleh beliau-beliau, selalu terselip wejangan dan pesan bijak yang menguatkan. Atau setidaknya membuat saya lebih tahan banting jika topik obrolan tersebut dijadikan bahan candaan.

Berita tersebut tentunya saya sampaikan ke Kepala Cabang di kantor, bersamaan dengan notice pengunduran diri saya selepas pernikahan. Saat itu, hal yang tidak saya duga dan cukup membuat kecewa adalah bagaimana skema pengunduran diri saya yang memang bertepatan dengan pergantian tahun dan annual plan diatur. Seolah abai dengan kontribusi yang sedikit banyak saya berikan selama 7 tahun terakhir ini. Setidaknya, itulah yang saya rasakan saat itu. Masa efektif saya berkantor hanya hingga Desember 2019. Di bulan Januari 2020, saya mendapatkan sabbatical leave sebulan penuh untuk mengurus dan melangsungkan pernikahan. Sabbatical leave yang menandai berakhirnya masa kerja saya di perusahaan.

***

Februari 2020. Saya jadi orang bebas. Terlepas dari atribut perusahaan yang selama tujuh tahun lebih menjadi bagian dari identitas saya sehari-hari. Atribut yang juga terkadang menjadi amunisi ekstra saat menyelesaikan sebuah pekerjaan event. Meski memang masih menyelesaikan beberapa pekerjaan secara jarak jauh, namun secara de jure saya sudah bukan insan perusahaan tersebut. Seperti yang saya idamkan saat saya penat dengan pekerjaan: bagaimana jika saya menjadi free agent, yang bebas berekspresi dengan gaya berpakaian serta memiliki fleksibilitas tempat dan waktu bekerja. 

Mengambil keputusan untuk berlalu dari perusahaan bukanlah hal mudah bagi saya. Saya senang bekerja. Bekerja menjadikan saya berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Saya mulai bekerja selepas kuliah. Meski masih tinggal dengan kedua orang tua, namun saya membiayai pengeluaran saya sendiri. Perlahan membentuk identitas diri dan kehidupan yang saya inginkan. Di samping itu, bekerja memeras otak, memacu adrenalin dengan tenggat waktu yang dihiasi dengan beragam kisahnya dan berinteraksi dengan banyak orang sungguh merupakan excitement tersendiri. 

Gamang adalah perasaan yang menyelimuti kala menimbang opsi yang sebenarnya tidak banyak. Untuk bisa mengurus anak-anak dengan maksimal, harus ada alokasi waktu dan energi. Dua variabel yang tidak mungkin dicapai jika saya terus berada di perusahaan. Istirahat untuk diri sendiri saja terkadang kurang, bagaimana mau mengurus anak-anak? 

Mengurus anak-anak maknanya lebih dari sekadar memberi makan, menyekolahkan, memberi pakaian dan tempat tinggal yang layak. Nilai-nilai, budaya dan sejarah keluarga, serta membangun rasa dan ikatan di dalam keluarga adalah arti mengurus anak-anak yang sesungguhnya. Sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh guru di sekolah, babysitter, ataupun lainnya. Adanya sentuhan sosok orang tua perempuan di rumah adalah sapuan kuas tersendiri di kanvas pengalaman hidup anak-anak.

Dulu, Ibu berhenti dari pekerjaannya untuk mengasuh adik dan saya langsung sementara Bapak bekerja. Diantar jemput oleh Ibu setiap hari. Bertemu Ibu 24 jam penuh. Diajari beragam hal yang melekat di memori, di hati, juga di kepribadian yang terbentuk pada diri saya yang sekarang. Belajar dari kebiasaan-kebiasaan Ibu. Akan berbeda ceritanya jika siang hari saya ditemani oleh babysitter sementara Ibu saya bekerja. Pengalaman-pengalaman menarik sepulang sekolah SD bersama Ibu dan mobil Suzuki Jimnie-nya masih lekat diingatan.

Delta Plaza adalah mall pada masa itu. Sepulang sekolah, Ibu mengajak kami ke sebuah kedai gelato bernama Gelateria. Letakknya di lantai dasar, tidak jauh dari supermarket Gelael. Pemiliknya adalah seorang laki-laki paruh baya asal Belgia. Di lain waktu, Ibu mengajak kami jalan-jalan ke Pasar Atom. Saat mengantri di tanjakan untuk mencari parkir, tiba-tiba mobil Ibu mundur. Entah rem tidak berfungsi atau kenapa, sehingga beberapa petugas membantu menahan dengan pavingstone. Pernah suatu siang, saat sedang menanti lampu lalu lintas berubah hijau, mobil Ibu diketuk oleh preman, dari sisi penumpang depan. Preman mengancam akan melukai adik saya, yang saat itu sedang berdiri di kursi depan dengan jendela sedikit terbuka. Tak lama lampu lalu lintas berubah hijau dan Ibupun memacu mobilnya pergi. Peristiwa-peristiwa kecil namun masih melekat.

Kegamangan yang tak kunjung reda sempat saya bagikan kepada sepasang Om dan Tante yang sudah saya anggap seperti orang tua kedua. Banyak pertimbangan yang diberikan kepada saya, agar saya lebih mudah mencerna dan memilih. Memilih keputusan yang sudah jelas.

***

19 Januari 2020. I never thought that this day would arrive. I spent my adult years being single, di saat teman, saudara, rekan kerja mulai menemukan calon pendamping dan kemudian membangun rumah tangga mereka. Sesekali pernah saya merasa tertinggal, namun seringnya, saya menikmati kesendirian itu. Bebas menentukan apa yang mau saya lakukan. Mengitari Periplus di Pakuwon Mall sepulang bekerja untuk membaca sinopsis buku-buku di sana, mencari apakah ada yang saya ingin baca lebih lanjut. Memborong buku di hari ulang tahun saya. Window shopping sendirian di Pakuwon Mall, ataupun grocery shopping di sana. Melepas lelah seusai grocery shopping di Djournal Coffee sambil membuka sampul buku-buku yang baru saya beli di Periplus. Menghabiskan jam makan siang dengan menikmati truffle pasta sendirian di salah satu restoran favorit. Menyelesaikan pekerjaan di laptop, atau sekadar duduk dan makan di sebuah kafe kecil favorit saya yang terletak di Surabaya Timur. Bukan karena masakan yang luar biasa enak, tetapi karena suasananya yang tenang, bukan tempat berkumpulnya anak-anak gaul, dan bersebelahan langsung dengan toko buku. I enjoy driving around the city, alone. Sendiri, tertinggal mungkin menurut pandangan umum orang, nevertheless… I never felt lonely in solitude.

Banyak hal yang ingin saya benahi. Begitu pikiran yang muncul ketika pertama menginjakkan kaki di rumah “baru”. Sudah menjadi kebiasaan ketika saya menginjakkan kaki di sebuah tempat, atau bertemu dengan seseorang untuk seketika membaca situasi yang ada lalu mencari cara untuk mewujudkan visi saya. At least arranging the household will occupy my time. Kegiatan di masa transisi dari bekerja di sebuah perusahaan menjadi seseorang yang tinggal di rumah. Jangan pernah panggil saya Ibu Rumah Tangga, karena itu bukan gelar yang saya impikan sejak di bangku sekolah. Being versatile is what I aspire to be: running a household while also managing a job that’s in line with my passion. Sesuatu yang berhubungan dengan kreasi.

Media sosial adalah jendela penghubung dengan dunia luar, meski yang ditampilkan hanyalah representasi, satu atau dua fragmen dari kehidupan di luar sana. Awalnya, ada rasa rindu akan apa yang telah saya tinggalkan. Perasaan gamang yang tenggelam, menggapai lagi ke permukaan. Apakah saya akan berhenti di titik ini saja? Bukankah perjuangan yang saya lakukan sejak di bangku SMP, SMA, perkuliahan hingga bekerja adalah rangkaian proses membentuk karakter dan identitas diri, to be my whole self? Menjadi diri saya sendiri yang diakui, bukan menjadi seorang perempuan dengan deretan label Nyonya…, istrinya si ini… Ibunya si itu… dan seterusnya.

Menjemput anak-anak sepulang sekolah menjadi rutinitas baru yang membawa kenangan masa kecil saat dijemput Ibu usai sekolah dulu. Bersama Dza, saya menyetir pulang ke rumah sambil dipandu olehnya, yang sudah mulai bisa menghafal arah dan tempat. Bersama Day dan Dil, ada rutinitas minum bekal es teh dan mampir ke rumah Kakek-Nenek, ataupun putar-putar sebentar sebelum pulang ke rumah. Rutinitas yang baru dimulai namun belum sempat bertahan terlalu lama. 

***

Akhir bulan Maret 2020, setelah Day dan Dil menjalani rangkaian PAS mereka di sekolah dan saat Dza sudah dua minggu tidak bersekolah karena batuk… kami mulai berada di rumah karena pandemi. Rutinitas baru pun terbentuk: bangun pagi, sarapan, lalu bersiap untuk belajar dari rumah: gabungan antara mengerjakan tugas sekolah, video conference, dan negosiasi tanpa henti dengan anak-anak yang belum terbiasa belajar di rumah. Menyisipkan waktu untuk diri sendiri di antara mengawasi dan memandu belajar serta menangani urusan rumah tangga. Sebuah rangkaian kegiatan yang hingga hari ini berlangsung.

***

Saya duduk di sudut kamar, tepat di sebelah jendela. Awan mendung menggelayut. Terdengar suara kendaraan di luar berlalu lalang. Mencoba menuangkan pikiran dan perasaan yang tergulung di pojokan memori. Teringat percakapan dengan suami di bulan awal-awal pandemi, “Dipikir-pikir untung ya kita nggak menikah di bulan Maret. Padahal waktu itu aku pikir Maret waktu yang pas, cukup waktu untuk persiapan (wedding), ada waktu untuk transisi resign bla bla bla…”

It is amazing that when we look back to all of the pieces that have already fallen in their right places… eventually things make sense. 

Perasaan tersinggung karena merasa didorong untuk segera mundur oleh perusahaan, stres hingga alergi kambuh (dan Prof dokter kulit saya sejak kecil ikut bingung) karena tanggal pernikahan yang maju dan persiapannya tumpang tindih dengan pekerjaan dan event, merasa kehilangan kesempatan untuk (masih) berkarya di luar setiap harinya, ternyata itu semua adalah jalan yang dilalui untuk mencapai hari ini. Ceritanya akan berbeda jika semuanya terjadi sesuai dengan rencana dan kehendak saya. Hari ini tak akan seperti yang terjadi sekarang.

Lantas bagaimana dengan semua emosi dan persepsi yang saya rasakan kala semua peristiwa di atas terjadi?

Kesemuanya adalah bagian dari proses internal diri ini, therefor I have no regrets. I will always make plans. It is what ticks me. My brains are wired that way and there is no button to shut the function off… but I know better. To be more resilient when things don’t go the way I plan it. I learn to take a moment, pause for a minute and take a bird-eye view. Mencoba melihat keadaan dari sudut pandang 360 derajat agar logika dan emosi tak melulu beradu. 

Ada momen di mana saya berpikir, bagaimana jika saya bukan seorang yang selalu memikirkan dan menganalisa beragam hal… melainkan hanya menjalani apa yang ada. Jadi orang yang simpel-simpel saja. Perhaps my eyes will wander less when I sit in silence, but then I will be boring. Selama ini, I never apologies for being who I am. Antik, kata salah satu dosen pembimbing saya dulu. Ungkapan yang saya respon dengan cengir-cengir kala itu, setelah menghilang satu bulan saat bimbingan skripsi. 

7 bulan dan 12 hari. 226 hari, to be exact.

We have been literally living in a box for this long. Terbatasnya ruang gerak dan pilihan aktivitas karena adanya pandemi. Dulu setiap hari saya keluar rumah, yang jelas karena bekerja, kemudian mengisi waktu sesuka hati saya: nge-mall hampir tiap hari, jajan kopi, buku, lipstik, menyetir sendirian menyusuri kota… semuanya dengan serba terburu-buru.

Selama 226 hari ini saya bergerak dengan ritme yang lebih lambat dibandingkan 7 tahun terakhir. Belajar memaknai lebih dalam momen-momen kecil yang selama ini terlalui begitu saja, termasuk adanya fleksibilitas waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Mencoba membangun gaya hidup yang lebih sehat. Sesekali bergelut dengan perasaan jenuh dan terkurung lalu menyendiri di kamar, atau di balkon belakang saat anak-anak terlelap di siang hari.

Ada banyak sisi diri ini yang ingin saya eksplorasi, yang dulunya terkesampingkan karena disibukkan dengan pekerjaan. Yang dulu saya idam-idamkan untuk bisa lakukan. Bagi saya, a person is made up of million things: pengalaman hidup, minat, lingkungan sekitar, dan lain-lain. Kala masih bekerja, saya selalu menolak jika didefinisikan sebagai satu hal saja: seorang CR. Makanya dulu saya “men-challenge” untuk bisa dipercaya mengerjakan hal-hal lainnya.

Sayangnya, kompleksitas seorang manusia itu tidak kasat mata oleh manusia lainnya. Bentukan pengalaman hidup, keinginan, hobi, cita-cita, perasaan dan pemikiran, hal-hal yang sifatnya konseptual atau intangible itu, tak semuanya bisa terproyeksikan ke luar. I always wonder whether the people around me: my husband, my kids, my parents… are they able to feel the depth of emotions and complexity of thought that I experience? Empathy comes with limitation too.

Diam ketika sedang bergumul dengan perasaan atau pikiran sendiri lebih mudah dilakukan daripada menjelaskan. Mungkin cuma Albus Dumbledore dan Pensieve yang ia gunakan, yang bisa benar-benar memahami.

Otherwise, the true depth of one’s emotions and thoughts will remain locked deep,

in a confined space that is mind.

“I use the Pensieve. One simply siphons the excess thoughts from one’s mind, pours them into the basin, and examine them at one’s leisure. It becomes easier to spot patterns and links, you understand, when they are in this form.”Albus Dumbledore

Written by Anty

A CR Girl turned stay at home Mom of 3 kids. Missus Heroine is the place where I share my thoughts and journey adapting into my new roles as well as many other things. Here I am, in a journey of becoming the Heroine I want myself to be.

More From This Category

Playtime and Endless Imagination

Playtime and Endless Imagination

Children and their imaginations are two inseparable pairing. I have 3 children with endless imaginations, that they even create a game called “Game Imajinasi“. Basically, Game Imajinasi is whatever adventure/narrative game they create and play around the house using...

read more
Tea Tarik

Tea Tarik

I watch the amount of sugar intake I consume. I don't do strict diet and measuring calories per se, but for most of the time, I try to keep whatever I eat or drink in moderation. Nevertheless, my favorite drinks for all time have been avocado juice, mocha flavored...

read more
Pertemuan Tatap Muka: Yes or No?

Pertemuan Tatap Muka: Yes or No?

      I am a mother of 3 children aged 10 (Day - 4th grade), 9,5 (Dil - 3rd grade), and 6,5 (Dza - currently gap year, will start the 1st grade on July 2021). Minggu lalu ada online meeting antar orang tua murid dan pihak sekolah untuk membahas rencana...

read more

0 Comments

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Drop me your email and I'll slide into your inbox for updates!