Kegiatan Ramadhan Dza: Pesantren Kilat Online!

Setiap kali Ramadhan, saya berkeinginan agar anak-anak memiliki aktivitas yang bermanfaat dan memorable, serta tentunya bisa memperkuat keimanan mereka. Plus, untuk mengalihkan mereka dari keinginan menonton TV. Adanya pandemi membuat ragam pilihan jadi terbatas karena harus mempertimbangkan faktor kesehatan bagi anak-anak dan juga keluarga. Tahun lalu, sebagai aktivitas Ramadhan sekaligus persiapan memasuki jenjang Sekolah Dasar, Dza saya ikutkan program Kelas Ramadhan Cendekiawan Cilik. Serangkaian kegiatan Islamic based montessori untuk melatih sensorik, motorik, kognitif anak. Nah, di tahun ini Dza saya ikutkan program Ramadhan lagi, namun dengan penyelenggara yang berbeda.

Dza saya ikutkan program Pesantren Kilat Online Mungilmu x Little Zam. Seperti biasa, awal mulanya karena tidak sengaja stumbled upon the ad on Instagram. Saya tunjukkan dulu kepada Dza jadwal kegiatan dari sanlat online ini sekaligus saya jelaskan alasannya kenapa saya mau mendaftarkan Dza untuk kegiatan semacam ini.

Pertama, untuk mengisi Ramadhan Dza dengan kegiatan bermanfaat. Tahun lalu Dza mengikuti Kelas Ramadhan Cendekiawan Cilik dan dia sangat enjoy. So I thought she would love this one too. Kedua, untuk membiasakan Dza akan beragam kegiatan di luar sekolah. Dulu jaman SD, sepulang sekolah saya mengikuti kegiatan lain seperti les mengaji, renang, dan bahasa Inggris. Sempat juga mengikuti bimbel saat menjelang ujian kelulusan. Jadi, kegiatan saya sepulang sekolah tidak melulu tidur siang dan menonton TV. Sudah terbiasa “aktif” dari kecil. Nah, anak-anak saya ini terbelit kondisi pandemi yang membatasi ruang gerak mereka di luar rumah. Cita-cita saya untuk mengikutkan anak-anak di Perisai Diri, panggil ustadzah mengaji, juga klub catur untuk Day belum bisa terpenuhi. Apalagi untuk Dza, yang literally fresh from kindergarden langsung pandemi. Belum sempat merasakan ekskul dan field trip seperti kedua kakaknya. Harapan saya, dengan terbiasa mengikuti ragam aktivitas, Dza bisa jadi anak yang ulet dan tangguh, tidak malas/mageran.

Satu hal lagi, saya ingin Dza memiliki kegiatan dia sendiri, terlepas dari kedua kakaknya. This way, she will learn to be more independent, braver to voice her opinions and wants tanpa embel-embel persuasi dan pengaruh dari kedua kakaknya, especially Dil… yang belakangan sering saya dengar memveto most of the things Dza wanted to do. Jujur saja ya, punya anak perempuan itu tricky. Di satu sisi dia harus lembut dan feminin agar tidak kehilangan fitrahnya sebagai perempuan. Di sisi lain, dia harus tough, pantang menyerah simply because being a woman banyak kendalanya. Mulai dari double standard, how some men/boys treat women, etc. Oh to live in a patriarchal society!

Kegiatan sanlat (pesantren kilat) online ini berlangsung selama 7 hari, pada tanggal 10-16 April 2022. Ada beberapa jenjang tiket pendaftaran, saya jelas ambil yang paling ekonomis hehehe. Itu pun sudah dapat bonus giant coloring paper yang sampai sekarang belum kelar juga diwarnai oleh Dza. Di awal, saya meminta komitmen dari Dza untuk rajin mengikuti kegiatan sanlat online ini. Kenapa saya minta komitmen? Karena jadwal kegiatannya yang bikin deg-deg ser!! Seperti namanya, sanlat online ini sepenuhnya diadakan melalui Zoom meeting. Pagi hari jam 10.00-11.00 ada Sapa Pagi via Telegram. Ini sih gampang, setiap pagi dari guru pembinanya akan mengirimkan voice note berisikan doa, atau pendalaman makna salah satu surat pendek untuk diperdengarkan ke peserta sanlat. Biasanya kegiatan ini saya sisipkan sepulang Dza sekolah saat ia ada waktu break atau sore hari saat menunggu waktu berbuka. Beberapa materi dari Sapa Pagi di antaranya membaca doa pagi hari, serta kisah di balik surat Al-Kautsar.

Selanjutnya, setiap hari ada dua sesi Zoom meeting yang harus diikuti. Sesi pertama berupa kisah-kisah Islami diadakan jam 13.00-13.30 lalu dilanjut dengan kuis via Quizziz. Anggap lah jam 14.00 baru benar-benar selesai. Kisah Islami dibawakan oleh beberapa pendongeng yang berbeda. Ada kisah tentang Umar bin Khattab, tokoh-tokoh perempuan Islam yang dijamin masuk surga oleh Allah, dan lain-lain.

Sesi kedua berupa beragam aktivitas kreatif untuk pengayaan yang berbeda setiap harinya, diadakan jam 15.30-16.15. Aktivitas kreatif ini lumayan menarik lho. Ada belajar coding menggunakan Scratch (kebetulan ini anak-anak suka coba bikin sendiri), belajar mendesain interior ruang sholat, public speaking, gymnastic, membuat kartu lebaran pop up, dan lain-lain. Saya lihat Dza paling tertarik di coding, desain interior, serta membuat kartu lebaran. Printil-printil kerajinan tangan seperti yang suka dia lakukan kalau lagi banyak ide atau menganggur di rumah! Sesi gymnastic diisi dengan kegiatan pencak silat… which is quite boring for Dza. Bukan karena tidak tertarik, namun menurut saya karena di rumah Dza sendiri ada Abi-nya yang memang pelatih silat (she was like, “Meh… I’ve seen better than this.”) serta belajar silat via online jelas kurang seru hehehe.

Nah, kedua sesi ini berada di dalam rentang waktu tidur siangnya Dza! Wahahhaa. Bayangkan, setiap hari selepas subuh Dza tidak tidur sama sekali. Hal ini karena Dza sudah membaca hadits larangan tidur di waktu subuh (sekaligus alibi supaya dia bisa main sepeda pagi-pagi hahaha). Kemudian jam 08.00-11.00 Dza sekolah online (Day dan Dil sudah PTM terlebih dahulu). Jam 12.00-13.00 seusai sholat Dhuhur, Dza mengikuti kegiatan Tilawati dari sekolah secara online. Selepas Tilawati, langsung dilanjut dengan kegiatan Zoom sanlat online sesi pertama. Kelar sesi pertama, saya segera menggiring Dza untuk tidur siang sambil merayu dan berpesan, “Dza bobo siangnya cepet ya nanti bangunnya semangat buat ikut santren online yang sesi kedua ya…” Hehehe.

Alhamdulillah ya, Dza walaupun terkadang rada susah dibangunkan namun tetap kooperatif. Begitu buka mata langsung mau cuci muka dan pakai jilbab lalu segera nongkrong di depan komputer. Di menit-menit awal terlihat Dza masih mengantuk alias ngumpulin nyawa dulu… banyak bersandar di meja. Setelah itu, sudah mulai segar baru deh terdengar celotehan etes khas Dza yang bersahutan menjawab pertanyaan dari pemberi materi di sesi Zoom.

Baca Juga: Cendekiawan Cilik, aktivitas Ramadhan 30 hari untuk anak.

Lalu bagaimana dengan Day dan Dil? Tenang saja, meski kegiatan ini saya khususkan untuk Dza, namun mereka berdua as usual ikut nimbrung terutama di sesi kedua. Kalau di sesi pertama, seringnya ditinggal tidur karena mereka kelelahan sekolah PTM. Meski ikutan nimbrung, namun porsi peran utama ada di Dza, karena sekali lagi, ini adalah rangkaian kegiatan yang sengaja saya peruntukkan bagi Dza untuk memperkaya dirinya yang sejak lulus TK sudah terkurung pandemi.

Semoga kegiatan ini bisa menjadi pengalaman berkesan untuk Dza, dan tidak kapok-kapok ya Dza untuk ikutan aktivitas di luar jam sekolah!

Written by Anty

A CR Girl turned stay at home Mom of 3 kids. Missus Heroine is the place where I share my thoughts and journey adapting into my new roles as well as many other things. Here I am, in a journey of becoming the Heroine I want myself to be.

More From This Category

2 Comments

2 Comments

  1. Hastira

    wah sangat bermanfaat sekali ya

    Reply
    • Anty

      Wah, dianggap jerawat tanda sayang baby aja kali ya biar bumil tetap semangat!

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Drop me your email and I'll slide into your inbox for updates!