Menjadi Stay at Home Mom

by | Apr 18, 2022 | Journal, Ramadhan Journal | 2 comments

Menjadi Ibu Berkarir atau Ibu Rumah Tangga adalah pilihan yang harus dihadapi oleh perempuan setelah menikah. Itu kalimat klise yang sering saya dengar dulu, sebelum saya menikah. Dalam benak saya yang kaku dan idealis, saya berjanji pada diri sendiri jika nanti sudah menikah, saya akan mempertahankan prinsip untuk tetap bekerja. Jadi, cita-cita saya setelah menikah adalah menjadi Ibu Berkarir alias Working Mom. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak saya untuk menjadi stay at home Mom alias Ibu Rumah Tangga. Meninggalkan independence, karir, dan pekerjaan (juga uangnya hiks…) untuk sepenuhnya bekerja mengasuh anak-anak dan mengurus rumah. Nanti apa kabarnya hobi belanja dan dandan saya hayo?

Saya mencintai kebebasan yang saya miliki. Selepas kuliah dan bekerja pada 2012, orang tua saya sudah tidak pernah memberi uang jajan lagi. Memang, seperti orang Indonesia pada umumnya, saya masih tinggal bersama orang tua kala itu. Namun untuk urusan operasional pribadi, biayanya sudah saya tanggung sepenuhnya dari pendapatan. Saya pun punya kebebasan untuk membangun kehidupan yang saya mau dari pekerjaan saya. I was an independent girl, ke mana-mana sendiri, menikmati bebas belanja baju-tas-sepatu-buku-skincare-makan di cafe tanpa dicerewetin orang tua karena ya yang dipakai juga uang sendiri hehehe. My independence and accomplishments made people respect me and those had been a part of my identity for a long time.

In 2019, I met my then soon-to-be husband. He was a widower with 3 small kids. Not just an ordinary man because apparently he was a God’s answer of my love for classic English literature and its iconic characterization: Byronic Hero.

Intinya beneran I met the man of my many many many dreams (sampai my dreams dibilang impossible sama teman-teman kantor dulu hihihi). We had a brief courtship and by January 2020 we tied the knot.

And then it began, a new chapter of my life. Dalam chapter ini saya memiliki peran baru sebagai istri dan Maminya anak-anak. Keputusan untuk resign dari pekerjaan dan melepaskan status sebagai perempuan bekerja tidaklah mudah bagi saya. Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan, penyebab kebimbangan, dan tentunya ego saya yang harus diberi pengertian.

Pertimbangan untuk Terus Bekerja atau Berhenti Setelah Menikah

Saya suka bekerja. I am passionate about it. Menjadi seseorang yang aktif dan mandiri, hustling, memeras otak adalah bagian dari pekerjaan yang saya enjoy. Menyetir sendiri ke mana-mana, berangkat pagi pulang malam, kejar-kejaran sama deadline event dan laporan simultaneously… the overall adrenaline rush, they made me happy. Bekerja membuka peluang bagi saya untuk membentuk kehidupan yang saya inginkan alias aktualisasi diri. Saya bisa bertemu dengan banyak orang dan belajar banyak, bisa jadi seorang Anty yang seperti saya dambakan. Jujur saya, bekerja memberi saya kebanggaan sendiri. Saya dipandang sebagai perempuan muda, single, cerdas, dan mandiri. Berani mengungkapkan pendapat, meski saya berhadapan dengan senior. Di lingkungan sosial maupun keluarga pun saya merasa lebih dihormati dan didengar. Ada gengsi dan status sendiri menyandang predikat sebagai perempuan muda yang bekerja. Last but not the least, bekerja merupakan “jaring pengaman” bagi saya. Saya mandiri secara finansial, punya tabungan sendiri dan tidak bergantung pada orang tua ataupun pemberian orang lain. Seandainya saya menikah dan tetap bekerja, tentunya akan meningkatkan status finansial di keluarga kami. Terasa lebih safe karena “jaring pengaman”-nya dobel!

Nevertheless, all these perks came with downsides too.

Pekerjaan saya menyita banyak waktu. Load kerjanya tinggi, banyak event dan social gathering yang harus dihadiri, belum ditambah faktor lokasi. Kantor saya lokasinya jauh di ujung barat Surabaya, sedangkan event seringkali di tengah kota, dan rumah saya di daerah selatan Surabaya. Jarak kantor yang jauh dari rumah, banyaknya event yang mengharuskan saya pulang malam (bahkan lebih malam dari suami!), serta rute rumah-kantor-tempat event-rumah yang merupakan jalur kemacetan… membuat saya harus spending many hours commutingpaling cepat 2-3 jam di jalan. Bisa terbayang, saya akan sampai di rumah larut malam, kelelahan, di mana suami dan anak-anak mungkin sudah selesai dinner atau bahkan sudah siap-siap mau tidur. And I worked on Saturdays too!

Sebagai orang tua saya akan kehilangan waktu untuk membangun ikatan dengan anak-anak, tidak tahu detail perkembangan mereka baik secara pendidikan maupun secara personal, serta kehilangan kesempatan untuk mendidik mereka secara langsung. Tahunya cuma anak-anak sudah mandi dan makan saja. Jadi tidak ada bedanya dong suami punya saya dengan hanya ada Bibi di rumah hehehe. Waktu dan tenaga saya  harus benar-benar cermat dikelola jika saya ingin tetap punya quality time dengan suami dan anak-anak. Which means harus ada yang dikorbankan dari saya, yaitu waktu istirahat. Kombinasi kurang istirahat, stress pekerjaan, bakalan memicu masalah kesehatan. FYI, selama bekerja saya sudah 2x hospitalized dan each time saya opname, saya off kerja sekitar 1-2 bulan. Bisa kebayang ‘kan.

Perbedaan jadwal kerja dan industri pekerjaan saya yang didominasi laki-laki juga berpotensi untuk memicu perselisihan antara suami dan saya nantinya. Apalagi work schedule and activities dari kantor suami itu kalau saya perhatikan, tersusun untuk tetap memudahkan karyawannya beribadah. Berbeda dengan saya yang selama 7 tahun bekerja selalu buka puasa di jalan dan hampir tidak pernah tarawih saat Ramadhan. Hiks.

Don’t get me wrong ya, I worked in one of the healthiest corporation in Indonesia kalau kata Om saya yang levelnya direksi. Corporate values and culture-nya bagus, I learned a lot and really enjoyed my time there. Meski demikian seiring berjalannya waktu, saya ingin berubah jadi lebih baik as a human being and religious wise. Sayangnya, ada beberapa hal dalam keseharian dinamika kerja dan interaksi sosial di sana yang menurut saya kurang mendukung perubahan yang saya inginkan. Beda prinsip lah istilahnya.

I grew up having my Mom around me all the time. Ibu saya berhenti bekerja lalu mengasuh saya dan adik sendiri, tidak pakai babysitter. I have seen and experienced how she managed us, taught us, scolded us (hihihi…) and I believed we turned out to be like this due to combination of having our Mom around at home, as well as family culture and values instilled by both our parents and the entire family. Saya bukan anak yang diasuh orang lain dan dimanja fasilitas sebagai kompensasi absennya orang tua. Yah lagi pula orang tua saya juga bukan orang kaya yang bisa kasih anak-anaknya fasilitas ekstra kok hehehe.

Ada template dari Ibu dan juga salah seorang Tante yang cukup dekat dengan saya. They both stopped working once married. They still had their adult life while making sure their kids grew up right. Hal ini sebenarnya masuk dalam pertimbangan saya juga. Sudah ada yang pernah melakukannya. Secara karakter, Ibu dan Tante saya ini tipikal perempuan strong willed, yang kalau sudah punya mau tidak akan menyerah begitu saja. Individually keduanya baik-baik saja meski melakukan “pengorbanan”… ditambah karakteristik Bapak dan Om saya yang mirip-mirip juga sama suami, tidak banyak bicara tapi kaku sama prinsip wahahaha.

Tetap saja, biar sudah ada template… yah beratlah mau ambil keputusan semacam ini buat saya. Ini I was going to leave doing what I love for who I love too lho. Hiks.

Jika saya memutuskan berhenti bekerja, saya akan punya banyak sekali waktu dan tenaga untuk mengurus rumah, mengasuh anak-anak secara langsung sekaligus bonding dengan mereka. Saya bisa melihat langsung dan mempelajari karakter mereka masing-masing, kebiasaan, pola interaksi, dll lalu mencari cara untuk memperbaiki sikap-sikap ataupun kebiasaan yang kurang baik. Tiga anak saya masih dalam usia perkembangan, sayangnya sejak kecil mereka  banyak dijaga oleh Bibi saja. Ini adalah waktu emas untuk mengajari mereka tidak hanya technical stuff seperti pendidikan, namun juga hal-hal yang sifatnya intangible tapi justru penting dan besar nilainya untuk bekal kehidupan mereka nanti: akhlak dan kebiasaan yang baik, pola pikir dan kepribadian, family values and cultures, serta unggah-ungguh (hal penting dan sangat ditekankan oleh alm. Eyang Putri!). Wes ta lah, paparan informasi dan media digital mengakibatkan anak-anak kecil jaman sekarang dewasa sebelum waktunya dan mohon maaf, seringkali kepribadian, cara bicara, dan tingkah lakunya jadi nggak bener. I don’t want my kids to be spoilt, entitled, ungrateful little brats!

Berhenti bekerja berarti saya punya fleksibilitas dalam mengelola waktu saya. Saya tidak lagi terikat dengan aturan perusahaan dan demand pekerjaan kantor. Hal ini memungkinkan saya untuk pursue hobbies and interests yang selama ini tidak bisa dilakukan karena waktu dan tenaga tersita untuk bekerja. Saya pun bisa punya lebih banyak waktu untuk beristirahat dan punya kehidupan yang lebih balanced, less stressed. Saya tak lagi harus bergumul dengan prinsip yang bertentangan. Kesempatan untuk memperbaiki diri dan kualitas ibadah pun jadi lebih optimal.

But still, namanya orang bimbang ya. Jika saya berhenti bekerja, I will lose my social status and sense of self-worth yang selama ini I built around my work. Anty yang smart, muda, mandiri, berani. What am I gonna be? Just Emak-Emak Berdaster? Ukhti-Ukhti Sholihah? Ewh… I want to be sholihah but you must never ever ever call me one of those names okay! Memangnya self-worth saya cuma seharga daster Pasar Klewer? *mulai ngegas*

Di rumah sepenuhnya berarti saya kehilangan kesempatan interaksi dengan dunia luar, alias sesama orang dewasa. I will lose my adult life. Beda lho rasanya berdiskusi dan mengobrol dengan sesama orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak kecil. I will have to constantly menyampaikan topik dan pemikiran dengan kosa kata dan bahasa sederhana yang bisa dipahami anak kecil. I will miss beating my brains off! Sensasi dag dig dug dan adrenaline rush yang saya rasakan saat bekerja juga bakalan hilang. Padahal itu zest-nya yang bikin saya, sebagai orang yang kompetitif, jadi semangat untuk beraktivitas. Kebiasaan keluar rumah setiap hari untuk bekerja, memungkinkan saya untuk bisa refreshing kapan aja saya mau. Tinggal belok ke mall, toko buku, atau cafe. I will miss this too karena dengan tiga anak kecil dan Mama di rumah, yah gimana saya mau bebas langsung cabut sendirian kalau lagi jenuh?

Mengambil Keputusan u/ Jadi Super Mom!

This has never been an easy decision. Beraaat sekali buat saya mengambil keputusan. Bolak-balik diskusi sama Tante saya, since her approach is more logical than my Mom (whose approach is rather on the emotional side). Jika saya mengambil keputusan, harus based on logic instead of making decision out of love. Iya, supaya saya tidak menyesal di belakang.

My then soon-to-be husband sejak awal menyampaikan, dia tidak melarang saya bekerja asal kewajiban sebagai istri dan Maminya anak-anak bisa ter-handle dengan baik. Hal itu yang bikin saya berpikir. I have passion for working and I am competitive. Sekalinya saya bekerja, saya bakalan all out dan bisa saya jamin keluarga akan jadi prioritas kedua.

Saya melihat Ibu saya yang meski mundur dari dunia luar tapi masih jadi sosok yang dulu dikenal teman-teman dan lingkungan sosialnya: gaul, asyik, berisik. Ditambah lagi beliau masih bisa punya kehidupannya sendiri: pergi arisan, pengajian ke sana kemari, berkumpul dengan teman-temannya, dll. Saya melihat Tante saya, yang semakin lama semakin relijius. Pakai baju syar’i yang panjang tapi tetap pakai sneakers, hand bag cantik, dan ke mana-mana saking banyaknya urusan yang harus diselesaikan. She doesn’t stuck at home being Emak-Emak Berdaster. If they could do it, so should I right? Di dalam tubuh saya mengalir darah dan karakteristik yang sama dengan Ibu dan Tante saya. Ada darah Eyang Putri yang tangguh juga mengalir dalam diri saya. Masa saya tidak bisa? Ya ‘kan?

Super Mom! Begitu sebutan beberapa teman-teman saya ketika mereka tahu I was going to marry a widower, with 3 small kids, and quit my job to take care of them all. Sometimes, this drastic decision made me feel like Kate Hudson in her film Raising Helen. Dulunya asik kerja haha hihi living her life, suddenly… 3 kids!

Teman-teman dekat saya tahu, selama ini saya cuek sama anak-anak kecil. Malah cenderung sebel kalau ada anak kecil berisik. Ada anak pelanggan lucu main ke kantor? Ya cuek aja saya. Ada teman kantor bawa baby-nya yang gendut gemesin? Tetap saya cuek… but my closest friends also knew that I had a thing for older man hahaha.

Here I am two years later… living out my decision untuk mundur dari dunia luar dan embracing peran baru dalam kehidupan saya. Sempat lho saya mendengar ada yang berkomentar, kok saya resign-nya tidak nanti saja kalau sudah hamil. Ya gimana mau hamil kalo tiap hari saya kerjanya sampai malam yeee…

I love these kids and like I said before, I love my husband. He really is the answer to my prayers. Jadi, saya ingin menjaga baik-baik apa yang diamanahkan Allah pada saya.

Apakah saya sudah berdamai dengan kebimbangan saya? Not really, but I will find a way.

Written by Anty

A CR Girl turned stay at home Mom of 3 kids. Missus Heroine is the place where I share my thoughts and journey adapting into my new roles as well as many other things. Here I am, in a journey of becoming the Heroine I want myself to be.

More From This Category

Pregnancy Skincare Routine

Pregnancy Skincare Routine

Self pampering is my favorite thing. I think most women agree that they enjoy self pampering... and that the easiest self pampering is taking care of yourself by doing skincare routine! Well, saya sering mendengar cerita perempuan meninggalkan skincare routine mereka...

read more

2 Comments

2 Comments

  1. Ulfa Khairina

    Wah, Mbak. Beneran strong banget, deh. Aku sempat mikir kebalikannya dulu. Menikah dan stop bekerja, tapi setelah menikah dan sempat stop kerja aku nggak sanggup. Akhirnya aku memutuskan melanjutkan. And yes, I give up something to get another thing.

    Reply
    • Anty

      Wah, terima kasih! Jujur saja sampai sekarang pun aku masih berusaha beradaptasi dan mencari jalan supaya I can still do what I want/love, salah satunya dengan kembali intens blogging ini sih. Memang dilema hidupnya manusia itu adalah harus memilih sih hehehe. Semangat ya, apapun pilihan yang kita jalani, kita pasti bisa kuat.:)

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Drop me your email and I'll slide into your inbox for updates!