Buat Apa Saya Nge-Blog Terus?

by | Apr 14, 2022 | Journal, Ramadhan Journal | 8 comments

How the Love Bloomed

Reading and writing are two intertwined hobbies. Both are mine, and it started out when I was in my 1st grade of elementary school. Kami sekeluarga sering menghabiskan weekend di Toko Buku Gunung Agung yang terletak di Delta Plaza, Surabaya. Saat kelas 1 SD, Ibu membelikan saya novel, judulnya The Baby Sitter’s Club jilid pertama. It was the start of my love for reading. Tak terasa, koleksi The Baby Sitter’s Club dari yang semula hanya satu buah, berkembang menjadi 16 jilid. Masih ditambah koleksi-koleksi novel favorit saya pada masa itu: Lima Sekawan dan beberapa judul lain karya Enyd Blyton, Goosebumps,  Lupus, Olga, Agatha Christie, dan lain-lain.

My love for reading came along with my desire towards writing. Saya punya koleksi buku diary yang isinya curhatan sehari-hari anak SD. Diary-nya pakai gembok, buat jaga-jaga supaya adik saya tidak mencuri baca. Hihihi… padahal nggak ada yang penting juga di dalamnya! Selain itu, saat di bangku sekolah dasar, saya gemar menulis cerita. Cerita-cerita pendek dari imajinasi anak SD aja sih, menulisnya juga di buku tulis yang saya kasih sampul dari kertas kado! Hehehe.

Sepanjang saya sekolah, my favorite subjects juga tidak jauh-jauh dari urusan kosa kata. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan pelajaran hafalan were my strongest suits back then. What I lack in interest in Math and Science, I made up in Language and Social subjects. Saya masih ingat, saat SMP, untuk ujian praktek Bahasa Indonesia kami diharuskan membuat essay ringkasan dari sebuah buku bacaan. Bukunya bebas saja, yang penting pantes (bukan asal pilih buku yang tipis). Dengan semangat 45 saya minta dianterin ke Gramedia and I got myself a book titled “The Illustrated History of Fashion”. Bukunya tipikal buku fashion yang besar dan pakai hard cover. Maklum, saat itu saya masih memendam cita-cita antara kepingin jadi editor, atau fashion designer. Wahaha. Saat SMA, saya dengan sadar dan bahagia memilih jurusan Bahasa. Bukan karena anak buangan, karena saya termasuk dari beberapa siswa yang rank ujian akhirnya tinggi, namun karena ya saya suka saja. Begitu pula ketika memilih jurusan saat mendaftar kuliah. Saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi and I enjoyed every minute of my study there. Saya menutup studi saya di sana dengan sebuah skripsi kualitatif, menggunakan metode semiotika yang obyek penelitian dan topiknya saya enjoy banget! Meneliti konstruksi jurnalisme fashion di majalah US Vogue dalam film dokumenter The September Issue! Asek!

For the Love of Writing…

In many ways writing is the act of saying I, of imposing oneself upon other people, of saying listen to me, see it my way, change your mind. It’s an aggresive, even a hostile act. You can disguise its qualifiers and tentative subjunctives, with ellipses and evasions–with the whole manner of intimating rather than claiming, of alluding rather than stating–but there’s no getting around the fact that setting words on paper is the tactic of a secret bully, an invasion, an imposition of the writer’s sensibility on the reader’s most private space. – Joan Didion on her essay “Why I Write”

Saat kecil dulu, saya lebih menyukai novel ketimbang komik. Komik didn’t really get my attention walaupun saya baca beberapa (Doraemon, Detektif Conan). Novels have more words in it, and novels can describe things in details and longer words that comics can’t. Saya seolah bisa membayangkan dalam imajinasi, apa yang terjadi, di mana, bagaimana perasaan dan pikiran si tokoh cerita yang akhirnya terbawa bahkan setelah novel tersebut selesai saya baca hingga berhari-hari kemudian. Tidak hanya dari novel, lebih tepatnya, apapun materi yang kita baca, it will stay with us and influence how we think and do things. Words are versatile, and the ability to craft those words into sentences that can subtly influence other people’s mind, is fascinating to me. Sebuah cara halus untuk menyebarluaskan pemikiran dan pendapat kita, serta mempengaruhi orang lain. Sebegitu kuatnya kekuatan kata-kata dalam tulisan.

Menjalani kegiatan sehari-hari, apalagi kegiatan yang sifatnya rutin, kerap kali membuat kita sekadar menjalaninya saja. Going through the motion without really taking time to let everything we experience sink in. Tidak dipikir, tidak dirasa, lha wong namanya rutinitas. Itu lagi itu lagi. Tahu-tahu waktu berlalu. Hiks.

Hmmm… jika diibaratkan secara visual, bagi saya, menulis itu seperti penggalan kejadian di film Harry Potter! Itu lho, saat Dumbledore mengeluarkan isi pikirannya ke dalam pensieve.

Menulis berarti menuangkan isi diri kita ke luar. Perasaan, pemikiran, pendapat, puzzles and confusions, yang semuanya menumpuk jadi satu di dalam, tampak jelas semua. Sebagai penulis, saya seolah punya helicopter view, berasa memiliki sudut pandang orang ketiga. Dengan demikian, saya dapat mengamati dengan lebih jeli, hal-hal apa saja yang saya alami. Tak hanya itu, I can see clearly dan mudah mencerna makna kejadian, hubungan sebab akibatnya, value, dan hal-hal lainnya yang saya alami karena kesemuanya tertuang dalam tulisan. Nyata, bukan sekadar bayang-bayang di kepala. Hal ini tentunya mempermudah saya untuk bersikap, mengambil keputusan, dan juga mengevaluasi diri. Writing helps me to make sense about everything.

Writing is also a way for documenting our lives. Memories will fade, atau terpendam dalam dan tertutupi oleh peristiwa-peristiwa lain serta mundane routine yang kita hadapi sehari-hari. Immortalizing thoughts, ideas, feelings, and our experiences in written form membantu saya untuk mencatat hal-hal penting tersebut. In darker days, I could look back at my writings  and reminisce about the good times. Since it is a form of documentation, writing also acts as a tool to analyze my own milestone. How much have I grown throughout the years?

Writing on the Blog

Di bangku kuliah lah saya mengenal dunia blogging. I guess I have to thank my lecturer back then, Ms. Joanne for introducing us to the digital media. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di sini, blog saya dimulai sejak 2009 sebagai bagian dari tugas perkuliahan tentang digital media.

I started writing about my daily university days, the books and filmed I have watched and found interesting as well as other random things (mainly playlists). Saya memulai nge-blog menggunakan platform Blogger karena arahan dari dosen di perkuliahan (lebih lanjut bisa baca di sini), sebelum kemudian berpindah platform ke WordPress.

 We all like to do things that we love, don’t we? Tujuan saya nge-blog, pada dasarnya adalah because I love writing. Seperti yang saya jelaskan sebelum ini di atas. Being able to do what I love is empowering. Menambah semangat saya kala menjalani hari-hari yang didominasi rutinitas dan terkadang tak sesuai dengan rencana. At the end of an exhausting day mengurus rumah tangga dan anak-anak, I have my blog to fall back on to. Sesuatu yang saya miliki sendiri, untuk saya sendiri. I can document my daily life, see how far I’ve come, sekadar membaca tulisan-tulisan yang telah lalu, juga untuk menuangkan ide-ide, pemikiran, dan pendapat yang saya miliki.

Lantas mengapa tidak menulis saja di diary? Atau menulis di Microsoft Word misalnya? Mengapa repot-repot di-publish segala pakai blog?

Publishing my writings on the blog is a way for me to preserve my sense of self. I am myself first before my other roles (as daughter, wife, Mom, etc). I have cultivated my character and identity, the things that makes up the rest of me as an individual, sebagai seorang Anty, for years. I don’t want that taken away just because now I am married, becoming a wife and a Mom, as well as resigning from corporate work. Yup, my corporate work gave me a strong sense of self. Identitas saya jelas terlihat, hustling, creating ideas, decisions, etc. Sayangnya, lingkungan sosial kita tidak sebegitunya memandang perempuan yang berhenti bekerja lalu menetap di rumah. Perempuan kalau sudah menikah, apalagi berhenti bekerja, ya terkesan berhenti juga jadi pribadi yang memiliki identitas dan karakter. Langsung berubah jadi Nyonya A, Ibu B, Mamanya si ABC.

By having my writings out there on the blog, I am still having a bit of myself, well-preserved. I am sharing a part of me to the outside world, yang seringnya terlalu sibuk lalu lupa untuk jeda sejenak mengenal satu sama lain lebih dalam. I am showing my character and identity, yang mungkin tak sempat terungkapkan, terlihat, terekspresikan di kala bertemu langsung. Tak hanya ke orang lain, but also for my kids. Mungkin mereka terlalu kecil untuk memahami seluruh jalan pikiran dan ide=ide saya, having it written, mempermudah mereka untuk memahami, Mami ini seperti apa sih? That way, I–Anty the person–don’t disappear as the world goes by.

Memelihara sebuah blog, pushes me to keep on moving,  cultivating my curiousity and creative ideas meski sudah tidak aktif di corporate lagi. Sudah tidak jungkir balik cari ide dan dikejar deadline bikin event, dan lain-lainnya. Dengan memiliki sebuah blog, saya harus terus menerus menggali ide kreatif saya dalam hal mencari materi untuk ditulis. Tak hanya itu, mendesain/mengutak-atik tampilan blog agar tampak menarik dan update juga harus terus menerus saya lakukan. Aktif mengikuti perkembangan dunia blogging, mempelajari cara menulis yang menarik minat pembaca, SEO, dan masih banyak hal lainnya lagi. Biar otak berpacu terus, tidak “mati” karena cuma mager di rumah main HP! Hehehe.

Dengan begitu, secara tidak langsung blogging menjaga saya to stay productive. Aktif membuat sesuatu dari saya, untuk saya sendiri, di luar kewajiban peran saya lainnya. Tak hanya itu, having a blog that needs constant maintenance and updates, melatih dan “memaksa” saya untuk tetap disiplin dan konsisten. Kalau dulu masih kerja kantoran, yang  namanya disiplin dan konsistensi mau tidak mau harus dilakukan karena ada koridor pekerjaan yang tidak bisa dilanggar. Nah, kedisiplinan dan konsistensi ini menjadi tantangan tersendiri karena saya sudah tidak terikat aturan pekerjaan kantor. Konsekuensinya tidak terasa (kalo tidak disiplin) dan juga karena saya memiliki tanggung jawab lain yang menyita waktu dan energi (mengurus rumah tangga dan anak-anak). Adanya blog ini membantu saya untuk me-manage waktu dan energi, serta menghindari kata-kata mager, nanti saja, dan lain-lain.

Blog ini secara tidak langsung adalah portfolio online saya. I wrote about my experiences and life as a Customer Relation in the company here. Tulisan-tulisan saya di sini juga secara tidak langsung berfungsi demikian. Kalau tidak salah, I got my first job in a branding and design company (before I went into automotive industry) karena tulisan di blog saya. Through this blog, I do hope that I can create more opportunities for me. Kesempatan-kesempatan apa? Other writing opportunities or any projects that can be done remotely, misalnya.

Last but not the least, dari blog ini saya berharap untuk bisa memperluas jaringan pertemanan serta networking far and beyond the confine of my home. Agar meski saya di rumah, namun saya tetap me-maintain hubungan dan interaksi dengan orang-orang lainnya. Siapa tahu, nantinya bisa membuka berbagai kesempatan yang  belum pernah saya temui sebelumnya.

All in all, having solid purposes for doing something (such as blogging) help me to keep on moving, doing what I do, in the best way I can.

Written by Anty

A CR Girl turned stay at home Mom of 3 kids. Missus Heroine is the place where I share my thoughts and journey adapting into my new roles as well as many other things. Here I am, in a journey of becoming the Heroine I want myself to be.

More From This Category

Pregnancy Skincare Routine

Pregnancy Skincare Routine

Self pampering is my favorite thing. I think most women agree that they enjoy self pampering... and that the easiest self pampering is taking care of yourself by doing skincare routine! Well, saya sering mendengar cerita perempuan meninggalkan skincare routine mereka...

read more

8 Comments

8 Comments

  1. Wida

    setuju banget mbak, menulis ibarat meletakkan ingatan dalam pensive, biar gak lupa dan bisa dibaca-baca lagi ya ….

    Reply
    • Anty

      Iyah betul! Bisa naikin mood juga kalo kita baca-baca ulang postingan kita… Hehehe

      Reply
  2. Yunita sintha dewi

    Kebalikan dari aku, kalau aku lebih suka baca komik dulu. Karena kebetulan dulu passion aku jadi mangaka 🤣🤣🤣 lalu banting stir pas kuliah malah masuk jurusan tata busana karena menurut aku masih bsa ngembangin skill gambarku di sana.
    Kuliahnya ternyata sulit tapi begitu terjun ke pekerjaan di ranah fashion ternyata lumayan seru 😁 bermain sambil bekerja konsepnya 🤣🤣🤣

    Mbak POKOKNYA KAMU FAVOURITE-KU!!! tulisanmu tuh menginspirasi banget. Makasih banyak loh ngasih banyak ide.
    Semoga kamu jadi penulia yang handal iya 😍😍😍

    Reply
    • Anty

      Awww.. aku terharu baca komenmu! Hihihi terima kasih banyak yaaa, senang kalo ada yang merasa tulisanku berfaedah! Jadi penyemangat buat jadi lebih baik ini 🙂 Aamiin, makasih ya!

      Wow.. jurusan kuliahmu itu idamanku dulu hihihi.. tapi karena tidak di-approve ortu akhirnya jadi anak Ilmu Komunikasi deh wahahaha… Iya, kebayang ya kerjaan di ranah fashion itu gimana, lucky you! Hehehe.

      Reply
  3. ainun

    aku juga belajar buat konsisten sama blogku, kalau urusan kantor sudah jelas deadline kapan harus dikerjakan dan bahkan kudu tepat waktu mengerjakan. Giliran blog suka molor molor

    Reply
    • Anty

      Iya, belajar konsisten sama sesuatu yang koridor disiplinnya kita atur sendiri itu justru menantang.Kalo kantoran ‘kan ada aturan kantor dan atasan ya, nah blog kembali ke diri masing-masing. Tapi justru itu sih tantangannya! Ayo kita sama2 semangat! :))

      Reply
  4. fanny_dcatqueen

    Baca ini kok aku ngerasa liat diri sendiri yaaa 😄😄. Banyak samanya mbaaa… 😁.

    Jadi, blog itu sarana buatku ttp rileks dan terhindar dari jenuh. Juga sebagai pengingat dari semua pengalaman traveling dan kuliner, juga ulasan buku yang pernah aku baca. Setuju kalo dibilang membaca dan menulis itu udah kayak pasangan yg sebaiknya jangan dipisah. Banyak membaca, jadi lebih gampang mengutarakan dlm tulisan.

    Selain blog, buku juga udah kayak sahabat. Thanks to papa yg berhasil bikin anak2nya semua suka baca. Dari kami msh dlm kandungan, papa yg udh beli banyak buku buat dibacain. Tiap balik dari LN, pasti oleh2nya buku. Inget bangat dulu papa bawa buku bergambar hard cover , serial Jane and Peter. Aku blm bisa baca dulu tp melihat gambarnya langsung tertarik.

    Pas ultah, hadiah yg paling kami tunggu, itu diajak ke toko buku, dan kami bebas milih buku sebanyak apapun yg kami mau, asal kuat bawanya. Jadi aku dan adekku punya akal, keranjangnya tato di bawah, dan kami dorong 😄.

    Kalo mba buku pertamanya the babysitter’s club, aku dulu lima sekawan yg pertama aku baca sendiri. Buku2 lain selalu dibacain dan kebanyakan buku bergambar. Lima sekawan novel pertama buatku. Semakin tebal suatu buku, aku semakin suka 😄, Krn bakal lebih lama bacanya.

    Sampe skr, aku nerapin yg sama ke anak2. Beliin buku apapun yg mereka mau. Sampe kami bikin perpustakaan sendiri di rumah.

    Dari suka baca tadi, aku jadi hobi nulis. Di diary awalnya, walo kemudian bnyk yg aku bakar Krn dibaca mama. Akhirnya di blog kayak skr. Walopun isinya LBH banyak pengalaman traveling dan kuliner. Blog curhatan aku setting hanya buat aku sendiri😁

    Reply
    • Anty

      Wah toss dulu kita! Hehehe..
      Bener banget membaca dan menulis itu sepaket yang tidak terpisahkan dan pada akhirnya sangat membantu di dunia nyata untuk bersosialisasi, komunikasi, kerjaan dll. Bersyukur banget ya punya ortu yang support dan mendorong anak-anaknya untuk hobi baca!

      Setuju banget, novel kalo semakin tebal semakin seru bacanya! Begitu abis, jadi yaaaah gimana gituuu.. dan Lima Sekawan memang ceritanya seru. Dulu tuh aku mikir, kok bisa ya anak-anak kecil tapi petualangannya heboh kaya begini ehehehe…

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Drop me your email and I'll slide into your inbox for updates!