Puasa, Tak Hanya Menahan Lapar: What I Learned From

by | Apr 9, 2022 | Journal, Ramadhan Journal | 2 comments

Sebagai muslim, menjalankan ibadah puasa Ramadhan setiap tahunnya sudah menjadi kewajiban. Puasa Ramadhan juga sudah jadi hal yang “biasa”. Sejak kecil, tentunya kita sudah diajarkan oleh orang tua dan keluarga untuk berpuasa. Ada anak-anak yang belajar puasa bedug alias setengah hari dulu, ada yang diajarkan oleh orang tuanya langsung berpuasa hingga maghrib. Lingkungan tinggal maupun lingkaran keluarga tentunya mendukung, dalam artian, sebagian dari kita berada di neighbourhood dan keluarga muslim. Jadi ya, satu puasa, puasa semua!

Awalnya, sebagai anak-anak yang saya pahami ibadah puasa adalah menahan lapar dan haus. That was it. Seiring berjalannya waktu, saya memahami dan menyadari ternyata banyak sekali pelajaran yang saya petik dari menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Saya terlahir dalam keluarga gado-gado. Kedua orang tua saya muslim. Bapak dan keluarganya adalah penganut muslim sejak dulu. Ibu saya seorang mualaf. Beliau converted to Islam setelah kenal dengan Bapak saya. Keluarga besar dari Ibu menganut keyakinan Katolik. Sejak kecil, tentunya saya dan adik diajarkan dan dibiasakan untuk menjalankan ibadah wajib umat Islam: kami ikut les mengaji, sholat, serta menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Saat Lebaran, kami berkumpul dengan keluarga besar Bapak di rumah Eyang untuk silaturahmi.

Masa sekolah dasar saya habiskan di sekolah negeri yang tentu saja mayoritas siswanya beragama Islam. Begitu pula saat saya naik ke bangku SMP. Belajar di sekolah yang mayoritas siswanya muslim, menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan terasa berat meski dilihat sebagai hal normal. Semua teman dan guru berpuasa, kantin-kantin sekolah tutup/tetap beroperasi namun ditutup tirai, tidak ada pelajaran olah raga yang menguras tenaga, serta adanya kegiatan Pondok Ramadhan di sekolah. Tak ketinggalan juga adanya buku jurnal Ramadhan yang wajib diisi dari sekolah: checklist puasa, sholat fardhu, tarawih dan juga mencatat khotbah tarawih setiap harinya.

Masuk ke SMA, my brother and I took other path. Instead of vying for public high school, kami berdua memutuskan untuk meneruskan sekolah di… SMA Katolik! Well, sebenarnya itu keputusan saya sih, adik saya tinggal ngikut aja. Namanya juga adik, sekolah di mana pasti ngikut kakaknya biar ortu tidak repot pontang-panting mengurusnya! Hehehe.

SMA Katolik tempat saya belajar termasuk sekolah favorit. Saya betah di sana because of the facility and good quality of education. Surprisingly, lingkungan sosial di sana ternyata menyenangkan juga! Setelah 9 tahun bersekolah di mana saya menjadi bagian dari kaum mayoritas (Muslim!), kala itu giliran saya yang menjadi minoritas. Memang sih, ada siswa-siswa lain yang sesama muslim, ataupun penganut non-Katolik lainnya seperti Hindu dan Buddha tapi ya… jumlahnya bisa dihitung dengan jari!

Selepas SMA, lagi-lagi saya memutuskan jalan yang berbeda dibanding sepupu-sepupu saya. Saya memilih untuk meneruskan studi di universitas Kristen. Hehehe. Ya, keputusan-keputusan saya terkait pendidikan ini sempat membuat alm. Eyang Putri khawatir. Khawatir dengan lingkungan sosial saya yang nantinya bisa-bisa membuat saya berpaling keyakinan. Dalam hati saya memahami kekhawatiran tersebut. Memang ‘kan dalam Islam juga diajarkan, dengan siapa kita berteman itulah cerminan kita. Something like that lah. At that time, selabil-labilnya saya sebagai remaja, dengan pengetahuan agama yang juga masih sangat cetek, I still hold on to an ayat from surat Al-Kafirun:

Untukmu agamamu, untukku agamaku (Al-Kafirun 6)

Keluarga besar Ibu beragama Katolik, jadi buat saya, saya sudah terbiasa ada di lingkungan heterogen. Saya tidak kaget. Mungkin berbeda perspektifnya jika dilihat dari kacamata alm. Eyang Putri ataupun keluarga dari pihak Bapak yang memang sepenuhnya muslim.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Baca artikel detiknews, “Arti Lakum Diinukum Wa Liyadiin dan Tafsirnya” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-5073046/arti-lakum-diinukum-wa-liyadiin-dan-tafsirnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Berpuasa di Lingkungan Non Muslim

Saat bulan Ramadhan, saya berpuasa seperti biasa. Di sekolah dan kampus, kegiatan juga berjalan seperti biasa. Artinya: pelajaran olah raga tetap berjalan full praktek, saat jam istirahat kantin tetap ramai beroperasi. Ke mana pun saya menoleh pasti saya melihat teman-teman saya lagi asyik makan dan minum. Sudah begitu, kantin di SMA dan kuliah saat itu termasuk kategori “mewah” mulai dari jualan es krim, aneka minum Ne*tle dan brand lainnya, nasi goreng, nasi krawu, burger, sosis, crepes, soto, ada semua! Berbeda dengan pengalaman saya di sekolah negeri yang saat Ramadhan dibuka dengan libur awal Ramadhan, dijalani dengan durasi sekolah yang diperpendek, serta ditutup dengan libur Lebaran yang cukup lama. Saat SMA dan kuliah ya tidak ada namanya durasi sekolah diperpendek untuk menyesuaikan bulan Ramadhan. Kegiatan ekskul tetap berjalan normal, pulang sekolah juga tetap full day jam 2 siang. Libur juga hanya sekitar 1 minggu saat Idul Fitri. Awal puasa? Ya tetap masuk dong!

Di bangku kuliah pun sama seperti di SMA. Kegiatan berjalan seperti biasa. Malah saat Ramadhan saya menjadi panitia inti kegiatan fakultas saat itu. Dari pagi-hingga malam, saya berkuliah, dilanjut dengan kerja kelompok untuk tugas, meeting panitia sampai malam, serta menjalankan acara kampus tersebut. Mondar-mandir, keringetan, terkadang pingin emosi lihat kondisi lapangan campur aduk jadi satu. Saya dan seorang teman saya jadi satu-satunya panitia yang berpuasa saat itu.

Baca artikel detikedu, “Surat Al Baqarah Ayat 183: Kewajiban Berpuasa Atas Orang Beriman” selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5861908/surat-al-baqarah-ayat-183-kewajiban-berpuasa-atas-orang-beriman.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Baca artikel detiknews, “Arti Lakum Diinukum Wa Liyadiin dan Tafsirnya” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-5073046/arti-lakum-diinukum-wa-liyadiin-dan-tafsirnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Lessons I Learned!

Capek, lapar, haus, lemes? Pastilah!

Did I regret my decision to study in a Catholic and Christian school? Nope!

Tahu tidak, menjalankan ibadah puasa Ramadhan sementara teman-teman dan guru/dosen saya tidak berpuasa rasanya biasa saja! Dulu saat SD dan SMP, yang namanya puasa Ramadhan di sekolah itu terasa sekali. Betapa tidak, semua teman dan guru sama-sama tidak makan dan minum, sama-sama capek dan lemes. Sama-sama lihat jam menunggu jam pulang sekolah. Saat SMA dan kuliah, hanya saya (dan segelintir teman) yang berpuasa. Kegiatan dan lingkungan tidak ada yang berubah untuk menyesuaikan dengan adanya orang yang berpuasa. Justru itu membuat saya lebih tidak terasa kalau sedang berpuasa karena yang lainnya ya sudah… berjalan biasa aja as if nothing happened.

Saya belajar sabar dan beradaptasi. Pertama, jelas sabar menahan lapar dan haus, beradaptasi dengan kondisi harus tetap beraktivitas tapi tanpa makan dan minum. Terkadang menahan emosi juga sih kalau ada temen yang ngeselin tingkahnya hehehe. Namun yang terpenting, saya belajar sabar dan beradaptasi ketika saya berada dalam situasi yang tidak ideal (berpuasa tapi sekeliling saya tidak). Saya belajar untuk kuat dengan prinsip yang saya pegang. Ketika sekeliling saya tidak berpuasa, aktivitas berjalan normal tanpa memberikan privilege untuk saya yang berpuasa, dan godaan untuk batalin puasa begitu besar.

Baca artikel detikedu, “Surat Al Baqarah Ayat 183: Kewajiban Berpuasa Atas Orang Beriman” selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5861908/surat-al-baqarah-ayat-183-kewajiban-berpuasa-atas-orang-beriman.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Baca artikel detiknews, “Arti Lakum Diinukum Wa Liyadiin dan Tafsirnya” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-5073046/arti-lakum-diinukum-wa-liyadiin-dan-tafsirnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Di sini saya belajar untuk bersyukur dan tidak minta diistimewakan. Begini maksud saya, pernah lihat/dengar/baca komentar ketika bulan Ramadhan restoran dan warung sebaiknya memasang tirai penutup untuk menghormati mereka yang berpuasa? Atau ketika influencer di medsos me-review makanan di siang hari dan netizen berkomentar, “Kak, upload-nya jangan siang-siang dong. Nanti aja tunggu maghrib.”

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 183)

Berpuasa saat Ramadhan adalah perintah wajib dari Allah untuk seluruh umat muslim. Di sini saya memaknai, apapun kondisinya, selama kita kuat untuk berpuasa ya harus berpuasa! Tidak perlu minta dihormati atau diberi perlakuan spesial hanya karena kita berpuasa. Lha wong itu kewajiban. Prinsip saya sih begitu. Toh kita masih tinggal di Indonesia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Negara yang kegiatan dan hari liburnya juga mostly based around moslem holidays. Nggak berat-berat amat lah. Justru sebagai golongan minoritas di sekolah non-Muslim, saya semakin merasa bersyukur karena bisa berpuasa dengan mudahnya.

Saya belajar untuk saling menghormati dengan mereka yang berbeda prinsip dengan saya. Tidak ada perlakuan istimewa bagi saya yang berpuasa di sekolah saya yang non-Muslim namun teman-teman dan guru/dosen pun menghormati identitas dan kondisi  saya yang saat itu berpuasa. Mereka tidak dengan sengaja mengiming-imingi atau menggoda saya dengan makanan/minuman atau ngeledekin saya karena tidak makan dan minum. Keyakinan saya pun tidak pernah diutak-atik alias dikomentari sebagai sesuatu yang aneh atau negatif just because I was different from them.

Most importantly, I learned to walk a mile in other people’s shoes. Alias saya belajar untuk lebih berempati terhadap orang lain, terutama yang dianggap sebagai golongan minoritas. Mereka yang secara populasi jumlahnya lebih sedikit. It is privileged enough to be born muslim di dalam sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Jadi orang Islam di Indonesia itu “gampang”. Ketika SMA dan kuliah, saya merupakan kaum minoritas di lingkungan sekolah Katolik dan Kristen. Sebaliknya, teman-teman serta guru/dosen saya adalah kaum mayoritas. Segala kegiatan sekolah/kampus pasti ada kutipan atau rujukan dari Alkitab instead of Al-Quran. Kalender akademik disusun menyesuaikan hari-hari penting keagamaan Katolik/Kristen. Saya dihadapkan pada satu-satunya pilihan yang ada yaitu mengikuti (maksudnya mengikuti jadwal dan kegiatan akademik dan ekskul ya. Untuk kegiatan keagaamaan, tidak pernah ada paksaan sekalipun untuk saya mengikuti ibadah Katolik/Kristiani). Saya merasakan “sendirian”, dalam artian yah puasa-puasa sendiri, tidak ada barengannya gandeng renteng. Alhamdulillah sih karena dengan begitu saya jadi lebih mandiri, humble, tidak gaya semena-mena (biasanya ‘kan mayoritas, berasa punya banyak back up jadi suka gaya tuh!).

Keseluruhan pengalaman ini mengajari saya to be calm and wise menghadapi ragam situasi dan sudut pandang berbeda. I do feel privileged and grateful because Allah trusted me with this rare experience (and during my adolescence years!). Semoga sedikit kisah yang saya bagikan ini bisa menjadi inspirasi. I also wish that my kids will learn from this experience.

Written by Anty

A CR Girl turned stay at home Mom of 3 kids. Missus Heroine is the place where I share my thoughts and journey adapting into my new roles as well as many other things. Here I am, in a journey of becoming the Heroine I want myself to be.

More From This Category

Pregnancy Skincare Routine

Pregnancy Skincare Routine

Self pampering is my favorite thing. I think most women agree that they enjoy self pampering... and that the easiest self pampering is taking care of yourself by doing skincare routine! Well, saya sering mendengar cerita perempuan meninggalkan skincare routine mereka...

read more

2 Comments

2 Comments

  1. Nadella

    Pengalaman yang menarik. Terima kasih sudah berbagi cerita. Saya yang tumbuh dan terbiasa menjadi mayoritas ini jadi bisa sedikit-sedikit merasakan dari bacaan ini, meski belum bisa sepenuhnya.

    Reply
    • Anty

      Sama-sama! Senang bisa sharing pengalaman yang bisa bermanfaat ehehe

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Drop me your email and I'll slide into your inbox for updates!